MENJAGA TITIPAN TUHAN
Jumat, 6 Oktober 2017
--------------
Bacaan : Ayub 1:1-5
Nats Alkitab : Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka ... lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya, "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa...." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa”.
(Ayub 1:5)
--------------
Ilustrasi dan renungan:
--------------
Sepanjang tahun 2011-2015, pengemudi kendaraan bermotor di bawah umur di Indonesia menyumbang rata-rata 4.000 kecelakaan per tahun.
Para orangtua mendapat kritik pedas karena mengizinkan anak-anak di bawah umur mengemudi kendaraan bermotor, karena tak peduli bahwa ketidakmatangan anak-anak itu membuat mereka rawan menjadi penyebab dan korban kecelakaan..
Tentu, tak semua orangtua bersikap begitu.
Tetapi, data itu menunjukkan bahwa di antara banyak bahaya yang mengintai anak-anak, tak sedikit yang bermula atau mendapatkan jalan justru dari keputusan orangtua.
Tetapi, tengok sikap Ayub.
Pesta anak-anak Ayub itu pesta keluarga.
Di rumah.
Dengan ayah seperti Ayub, pesta itu jauh dari hal buruk.
Namun, pikir Ayub, "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa."
Maka, tiap kali pesta usai,
Ayub mempersembahkan korban, menguduskan anak-anaknya.
Alkitab mencatat, "Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa."
Hari ini kita belajar bagian firman Tuhan yang merujuk kepada judul perikop : “Kesalehan Ayub dicoba”.
Suatu bagian firman Tuhan yang mengisahkan tentang Ayub, seorang hamba Allah yang saleh, taat dan takut akan Tuhan di daerah Us. Pada awal kisah pada bacaan di atas, dinyatakan bahwa Ayub adalah seorang ayah yang takut akan Tuhan dan selalu berusaha membawa anak-anaknya kepada Tuhan.
Pelajaran firman Tuhan hari ini adalah sebagai berikut:
PENGAJARAN PERTAMA.
ORANGTUA ADALAH KARAKTER PENTING DALAM KELUARGA.
Dalam kehidupan keluarga, seringkali kita memisahkan antara karakter ayah, ibu, dan karakter anak-anak. Seringkali apabila terjadi kesalahan didik, kenakalan, dan pemberontakan anak, kita akan langsung menyatakan memang anak tidak bisa dididik atau terpengaruh teman yang buruk.
Namun rupanya firman Tuhan hari ini mengajarkan pada kita bahwa karakter dan sikap seorang anak sangat ditentukan oleh orang tuanya.
Dalam bacaan di atas, kita melihat satu figur orang tua, yaitu Ayub yang sangat mengenal Allah sangat mempengaruhi anak-anaknya.
Ayat 1 menyatakan bahwa : “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan”.
Karakter Ayub adalah karakter yang sangat mempengaruhi kehidupan keluarga.
Seluruh bagian keluarga, dan anak-anak sangat dipengaruhi oleh sikap hidup Ayub.
Sikap Ayub menghadapi kehidupan dan kebiasaan anak-anaknya sangat nyata, selalu membawa mereka kepada otoritas dan kehendak Tuhan (ayat 5).
Bahkan Ayub sebagai pimpinan keluarga selalu membawa anak-anaknya masuk ke dalam mezbah Tuhan melalui penyembahan dan permohonan pengampunan akan dosa anak-anaknya.
Kehidupan keluarga yang baik di hadapan Tuhan, tidak akan mungkin terjadi ketika orang tua tidak mulai memperkenalkan dan membawa keluarga kepada Tuhan.
Dunia mungkin akan mempengaruhi setiap perilaku anak-anak, namun Firman Tuhan merupakan pengaruh yang sangat kuat untuk membentengi dan memberikan dasar kehidupan yang kokoh, sehingga anak-anak dan keluarga tidak jatuh dalam perangkap dunia ini yang menyesatkan.
Menjadi perenungan kita, apakah kita sebagai orangtua atau orang-orang yang dituakan sudah mendasarkan hidup kita kepada karakter dan sikap yang benar dihadapan Tuhan?
Sebab karakter dan sikap kita akan menentukan seperti apakah karakter dan sikap anak-anak kita di hadapan Tuhan.
PENGAJARAN KEDUA.
LINDUNGILAH ANAK-ANAK DALAM FIRMAN DAN PERSEKUTUAN DENGAN TUHAN.
Menarik apa yang dilakukan oleh Ayub kepada anak-anaknya setiap hari di dalam kehidupannya.
Ayub adalah orangtua yang mengasihi anak-anak, yang sadar bahwa keselamatan anak-anak adalah tanggung jawabnya, yang karenanya selalu berjaga dan mengambil langkah yang perlu agar hanya hal-hal baik yang terjadi pada anak-anaknya.
Ayub sangat melindungi anak-anaknya.
Namun perhatikan apa yang dilakukannnya sebagaimana dinyatakan dalam ayat 4 dan 5 sebagai berikut:
“Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka. Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa”.
Terdapat tiga kunci perlindungan Ayub bagi anak-anaknya, yaitu:
Pertama.
Ayub tidak menggunakan pendapat pribadi dan nasehat pribadi untuk mendidik dan mengajar anak-anaknya, tetapi dia menggunakan kebenaran firman Tuhan untuk mendidik mereka. Sehingga pengalaman anak-anak Ayub sesungguhnya adalah pengalaman dengan Tuhan melalui Ayub sebagai orang tua mereka.
Kedua.
Ayub adalah pemersatu bagi anak-anaknya untuk masuk dalam mezbah Tuhan.
Firman Tuhan menyatakan dengan jelas, “ Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka”.
Adakah kita sudah membangun mezbah keluarga bagi keluarga kita setiap harinya?
Mezbah keluarga adalah pagar perlindungan paling kuat bagi keluarga kita.
Ketiga.
Kata “ demikianlah dilakukan Ayub senantiasa”, menunjukkan bahwa Ayub tidak pernah melupakan, tidak pernah kehilangan waktu, dan tidak pernah terlewat untuk membawa anak-anaknya kepada Tuhan.
Menjadi perenungan dalam hidup kita, apakah di tengah kesibukan, permasalahan, dan juga berbagai macam himpitan pekerjaan kita, kita masih mempunyai waktu untuk membawa setiap anak-anak kita kepada Tuhan seperti Ayub.
Tidak pernah lupa, tidak pernah melewatkan, dan tidak pernah kehilangan waktu untuk membawa anak-anak kepada Tuhan.
--------------
Renungan pribadi:
--------------
Bagaimanakah kita menanggapi hidup kita sebagai orang tua atau orang dituakan?
Apakah kita juga menyadari bahwa kita harus menjaga titipan Tuhan tersebut dengan sebaik-baiknya?
Ataukah karena kesibukan, keterbatasan waktu, dan juga berbagai macam permasalahan hidup, kita mungkin melewatkan, melupakan, dan kehilangan waktu untuk memperhatikan setiap anak-anak kita di hadapan Tuhan?
Sikap Ayub mengingatkan kita, orangtua, bahwa melindungi anak dari bahaya adalah kewajiban moral yang tak boleh ditawar. Mengapa?
Karena anak kita adalah milik Tuhan, buah hati Tuhan, yang Tuhan titipkan kepada kita.
Tuhan ingin agar kita dapat dipercaya.
Maka, kita pun paham kita harus melakukan apa yang paling tepat dan terbaik untuk anak-anak kita.
Marilah kita memperhatikan hidup kita agar kita sebagai orang tua dapat mempunyai karakter Kristus dalam keluarga kita, agar kita dapat menjadi pilar penting bagi keluarga dan anak-anak kita di hadapan Tuhan.
Dan kasihilah anak-anak di dalam Kristus dengan pengajaran dan kehidupan yang benar di dalam Tuhan dengan menegakkan mezbah Tuhan senantiasa di dalam keluarga.
--------------
E E/www.renunganharian.net
--------------
Selamat beraktifitas.
Tetap semangat di dalam Tuhan.
Tetap teguh menjalankan firman Tuhan.
Dan teruslah berdoa untuk berkat dan perlindungan dalam hidup kita, sama seperti Yabes yang telah berdoa demikian, sebagaimana tertulis dalam Kitab 1 Tawarikh pasal 4 ayat 10, yang demikian bunyinya:
Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!"
Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.
Sukses dalam hidup kita di hari ini.
Tuhan Yesus memberkati.
Amin.
-------------
Kata mutiara hari ini adalah :
MENJAGA ANAK-ANAK ADALAH KEWAJIBAN MORAL ORANGTUA.
KEWAJIBAN MORAL AMAT PENTING YANG TAK BOLEH DITAWAR, APALAGI DIINGKARI.
-------------
Comments
Post a Comment